METRO – Setelah bertahun-tahun menunggu perbaikan, warga RT 020 dan RT 023 Kelurahan Margorejo, Kecamatan Metro Selatan, akhirnya memilih bergerak dengan cara mereka sendiri. Secara swadaya dan gotong royong, warga memperbaiki gorong-gorong amblas di Jalan Sutan Dumas yang selama kurang lebih tiga tahun menjadi persoalan infrastruktur lingkungan. Kerusakan pada gorong-gorong yang menjadi akses penghubung utama tersebut disebut telah berulang kali diusulkan masyarakat melalui berbagai forum. Namun hingga kini, belum ada perbaikan permanen dari pemerintah daerah.
Warga setempat, AW, mengatakan masyarakat sudah terlalu lama menanti kepastian perbaikan. Kondisi gorong-gorong yang semakin parah tidak hanya mengganggu akses warga, tetapi juga dinilai membahayakan pengguna jalan yang setiap hari melintas.
“Sudah hampir tiga tahun kondisinya amblas seperti ini. Warga sudah sering mengusulkan supaya diperbaiki, tapi sampai sekarang belum ada tindakan. Karena kondisinya makin parah dan membahayakan, akhirnya masyarakat sepakat memperbaiki secara swadaya,” kata AW, Minggu (17/5/2026).
Menurutnya, gorong-gorong tersebut merupakan jalur vital bagi aktivitas masyarakat, mulai dari kendaraan roda dua dan roda empat hingga distribusi hasil usaha warga sekitar. Ketika hujan turun, kondisi jalan di sekitar gorong-gorong juga kerap tergenang dan rawan mengalami longsor kecil. Pantauan di lokasi, puluhan warga tampak bergotong royong membawa material berupa batu, pasir dan semen untuk memperbaiki serta mengecor bagian gorong-gorong yang ambles. Sebagian warga lainnya membersihkan saluran air agar aliran tetap lancar dan tidak tersumbat.
Aksi gotong royong tersebut menjadi gambaran kuat tentang kepedulian warga terhadap lingkungan sekaligus potret ketika masyarakat harus mengambil langkah mandiri menghadapi persoalan infrastruktur. Di tengah keterbatasan kemampuan pemerintah daerah, warga memilih tidak lagi sekadar menunggu, melainkan mengumpulkan tenaga dan sumber daya untuk mengembalikan akses lingkungan yang selama ini mereka gunakan bersama.
Ironisnya, keluhan mengenai infrastruktur lingkungan seperti jalan rusak, drainase jebol hingga gorong-gorong amblas belakangan semakin banyak disuarakan masyarakat di berbagai wilayah Kota Metro. Di sisi lain, kemampuan fiskal daerah disebut tengah mengalami tekanan sehingga sejumlah pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur belum dapat direalisasikan secara optimal. Kondisi tersebut membuat kebutuhan masyarakat dan kemampuan anggaran daerah harus dipertemukan dengan solusi yang tepat agar persoalan dasar tidak semakin berlarut.
Anggota DPRD Kota Metro dari Fraksi PDIP, A. Cahyadi Lamnunyai, yang turut memantau proses gotong royong bersama warga, mengatakan perbaikan tersebut murni lahir dari kesadaran masyarakat yang tidak ingin terus menunggu tanpa kepastian. Politisi muda itu mengaku memahami kekecewaan warga terhadap kondisi infrastruktur dan lambannya penanganan. Namun, ia juga menilai masyarakat perlu memahami kondisi keuangan daerah yang saat ini tengah menghadapi tekanan.
“Ini bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya sendiri. Warga bergerak karena melihat akses ini sangat penting dan kalau terus dibiarkan justru membahayakan,” ujarnya.
Ia mengatakan keterbatasan fiskal daerah saat ini berdampak langsung terhadap kemampuan pemerintah dalam mempercepat pembangunan maupun pemeliharaan infrastruktur. “Kita memahami kondisi APBD Kota Metro sedang mengalami tekanan. Tetapi persoalan infrastruktur juga tidak bisa terus dibiarkan karena menyangkut keselamatan dan aktivitas masyarakat,” katanya.
Kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu juga meminta masyarakat, khususnya di wilayah Metro Selatan dan Metro Barat, untuk tetap bersabar menghadapi kondisi kerusakan infrastruktur di lingkungannya masing-masing. Meski demikian, ia menegaskan pemerintah daerah tetap harus mencari solusi dan menghadirkan inovasi kebijakan agar persoalan dasar masyarakat tidak terus menumpuk tanpa penyelesaian.
“Pemerintah daerah harus mampu menjawab keluhan masyarakat. Infrastruktur yang rusak ini bukan hanya satu dua titik, tetapi sudah banyak dan membutuhkan langkah cepat serta inovasi kebijakan,” tandasnya. (Adv)